Bank Pembangunan Asia
(ADB) memproyeksikan, ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,5 persen pada tahun ini.
Angka ini, lebih rendah dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
Perubahan (APBN-P) 2015 sebesar 5,7 persen.
Deputy Country Director ADB Indonesia, Edimon Ginting, di
Jakarta, Selasa 24 Maret 2015 mengungkapkan, pemangkasan anggaran subsidi Bahan
Bakar Minyak (BBM) menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi
tersebut.
"Hal ini sangat memperbaiki kondisi fiskal yang menyebabkan
terjadi sumber daya yang besar untuk dialokasikan ke hal-hal yang produktif,
termasuk infrastruktur fisik dan sosial," kata dia.
Edimon menambahkan dengan penghematan tersebut, defisit anggaran
juga bisa ditekan menjadi 1,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Sehingga pembiayaan APBN dapat lebih efisien.
Menurutnya, ada sejumlah risiko yang harus dihadapi Indonesia.
Seperti pelemahan pertumbuhan negara mitra dagang dan kenaikan suku bunga
Amerika Serikat. Namun, pemerintah Indonesia dinilai siap mengantisipasi dampak
dari gejolak perekonomin global yang diperkirakan akan terus terjadi sepanjang
tahun.
"Pemerintah telah memiliki berbagai persiapan,"
tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, ADB juga memproyeksikan pertumbuhan
ekonomi Indonesia tahun depan sebesar enam persen. Stabilitas ekonomi dunia
yang lebih terjaga membuat ekonomi negara berkembang dapat tumbuh tinggi pada
2016.
Sumber: http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/605243-adb---indonesia-siap-hadapi-gejolak-ekonomi-global
Analisis
Ekonomi Indonesia
hanya tumbuh 5,5 persen pada tahun ini. Angka ini, lebih rendah dari target
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015 sebesar 5,7
persen. Deputy Country Director ADB Indonesia, Edimon Ginting, di Jakarta,
Selasa 24 Maret 2015 mengungkapkan, pemangkasan anggaran subsidi Bahan Bakar
Minyak (BBM) menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar