Tentang Sugar Glider
(Petaurus Breviceps)
Saya
bukanlah seorang breeder dan ahli mengenai Sugar Glider, disini saya hanya
membagikan sedikit pengalaman yang sudah pernah alami selama mengenal Sugar
Glider. Awalnya saya mengenal Sugar Glider lewat teman sekolah saya dulu
sewaktu SMA, waktu itu harga Sugar Glider berkisar >Rp. 500.000-/ekornya. Karna
harga dan minimnya pengetahuan saya mengenai perawatan Sugar Glider itulah yang membuat
saya berfikir beribu-ribu kali lipat. Meskipun saya jatuh cinta pada pandangan
pertama saat melihat ke-eksotisan dan keunikan Sugar Glider.
Karena
ketidak sabaran saya untuk memiliki Sugar Glider akhirnya saya paksakan untuk
membeli Sugar Glider. Sugar Glider pertama yang saya miliki saya beli dengan
harga terbilang murah WC (wild caught), ternyaata Sugar Glider yang saya beli
itu sudah minus beberapa jari dibagian kakinya, dan tentu saja galak, akhirnya
Sugar Glider pertama saya kabur. Setelah itu saya mencari informasi tentang pemilihan,
cirri-ciri Sugar Glider yang baik. Hampir setengah tahun lebih saya mencari
informasi, saya mencoba membeli kembali Sugar Glider, kali ini yang CB (captive
breed).
Singkat
cerita akhirnya Sugar Glider CB saya itu lebih mudah dalam diajak berinteraksi,
akhirnya saat ini saya mempunyai sepasang sugar Glider yang saya beri nama Sani
dan Zoro, Sejauh ini mereka sudah menghasilkan 2 ekor joey (bayi Sugar Glider)
yang sudah saya jual, dan saat saya mengetik tulisan ini Sugaar Glider saya
juga sedang IP (in pouch) dengan 2 ekor joey kembali. Karna saya tidak puas
dengan sepasang Sugar Glider saya memutuskan untuk membeli kembali joey Sugar
Glider CB.
Selama
ini saya banyak menemui seller yang mengaku memternakkan Sugar Glider yang
aslinya orang tersebut hanya membeli dari orang lain, dan ada pula yang
menggunakan Sugar Glider WC untuk diambil joeynya saja, katanya sih kalo Sugar
Glider WC itu setahun bisa 3-4 kali melahirkan/OOP (out of pouch). Memang kalau
merawat Sugar Glider dari Joey itu lebih lama dalam menghasilkan joey ketimbang
Sugar Glider WC yang umumnya sudah berusia dewasa dan sudah siap berkembang
biak. Saya pribadi lebih senang memelihara dari joey karna saya menikmati
proses pemeliharannya dan tidak menuntut untuk cepat-cepat mendapatkan joey. Saya
berfikir kalau terlalu banyak Sugar Glider bagaimana cara perawatannya,
bagaimana kebersihan kandangnya? Dan bagaimana kalau semua breeder menggunakan
Sugar Glider WC tentutnya ini meningkatkan penangkapan Sugar Glider dialam
liarkan? Apa kita ingin Sugar Glider terancam populasinya dialam liar sana? Semua
kembali kediri kita masing-masing, kalau saya pribadi lebih baik membeli Sugar
Glider yang CB atau hasil ternakan.
Mengenai
makanan, saya biasa memberi Sugar Glider saya dengan bubur bayi dengan rasa
pisang dan beras merah dan sedikit dicampur dengan vitamin, dan supplement,
karna Sugar Glider meruakan hewan omnivora dan moody (cepat bosan) saya
sesekali memberikan mereka buah-buahan, buah-buahan yang saya biasa berikan itu
semangka, apel, dan melon (ingat ini buah-buahan yang sering saya berikan ke
Sugar Glider saya, bukan berarti buah-buahan itu saja yang boleh diberikan) mengenai
buah-buahan saya rasa sudah banyak artikel-artikel yang membahas tentang makan
apa saja yang boleh dan tidak boleh diberikan ke Sugar Glider.
Saya
pribadi sangat sering memberikan proses makan secara handsfeed, yaitu pemberian
makan dengan menggunakan tangan, tujuannya sih untuk lebih mengenalkan kepada
mereka bahwa kita bukan ancaman dan kita tidak akan menyakiti mereka, selain
itu sih agar mereka lebih familiar dengan aroma tangankita yang nantinya akan
membuat mereka tambah percaya dan terbiasa kepada kita.
Tujuan saya menulis blog ini
semata-mata hanya untuk berbagi pengalaman saja, jika terdapat kata-kata yang
tidak mengenakkan, dan tidak jelas harap dimaklumi.
Selalu cintai dan perlakukan Sugar
Glider anda dengan baik.
Salah satu cara melatih Sugar Glider agar bonding terhadapa kita
with Diamond (my Sugar Glider)
with Bobby